Walaupun DP Gak Murah Lagi, Konsumen Tetap Suka Nyicil Mobil Segar

Eric Lee

VIVA   –  Pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini, membina lembaga pembiayaan kian selektif saat memberikan fasilitas kredit untuk pembelian mobil baru. Kini, konsumen akan sulit menemukan fasilitas uang membuang di bawah 30 persen.

Padahal, sistem kredit memproduksi pembeli tak perlu menyiapkan derma dalam jumlah ratusan juta rupiah. Membayarnya pun tak terasa berat, karena bisa diangsur setiap kamar selama kurun waktu tertentu dengan telah disepakati.

Pada sisi lain, adanya bantuan lantaran lembaga pembiayaan kepada konsumen, melaksanakan industri otomotif bisa bertahan di kondisi pandemi seperti saat itu, melalui penjualan mobil baru di diler resminya.

Menghadapi kondisi ini, Group Head of Retail PT Sokonindo Automobile, Ricci Yanto Salim mengutarakan, pihaknya menyiapkan strategi agar konsumen bisa tetap memiliki mobil pertama dari merek DFSK dengan cara kredit.

Baca selalu: Saat Beli Mobil Baru, Ternyata Dokter di RI Gak Sering Nyicil Kelamaan

“Kondisi saat ini, membuat lembaga pembiayaan menerapkan uang muka tinggi, itu membuat brand agak kesulitan berniaga. Namun, kami memiliki divisi dengan khusus mengurusi pembiayaan, untuk belakang meng-counter kondisi ini, ” ujarnya saat konfrensi video, Senin 22 Juni 2020.

Ricci menyebut, sepanjang tarikh lalu ada enam lembaga pembiayaan yang berkolaborasi, dan siap membantu masyarakat ketika memutuskan untuk melangsungkan pembelian unit DFSK. Di tarikh ini, kata dia, akan tersedia dua perusahaan pembiayaan baru teristimewa.

“Semester II tahun ini, saya akan tambah dua perusahaan pembiayaan untuk join mendukung kami. Kok? Kami sadar kondisi saat tersebut bikin uang muka naik, dan dua leasing baru ini hendak memberikan kelonggaran untuk itu ( down payment ), agar komposisi kredit tetap terjaga, ” paparnya.

Kebijakan leasing company untuk meningkatkan uang muka, kata Ricci, belum sampat merubah perilaku pembeli mobil DFSK untuk melakukan pembayaran secara tunai. Dia menyebut, komposisi kredit saat ini masih berada di kisaran 80 persen, sementara pembelian secara cash hanya sekitar 20 upah.

“Kondisi ini memang ada satu dan dua konsumen jadi beli cash. Tetapi susunan kreditnya masih terjaga, animo buat mengambil kredit cukup banyak, terlihat aplikasi SPK yang kami mengawasi, ” paparnya.